fbpx

Banyak Dipakai Anak Jaksel, Apa Maksud dari Healing?

 

Kebanyakan dari kita membicarakan “Healing”. Kemudian, apa itu healing? ditunjukkan untuk siapa? Kenapa kita mesti healing? Dan bagaimana cara healing anti boros namun tetap impactful? Baca artikel ini hingga habis ya, Goldeners. Karena kali ini kita akan mengulas lebih mendalam soal healing, lebih dari sekedar perspektif bahasa, yuk stay tuned!

Sesudah melakukan rutinitas, kita membutuhkan healing. Mahasiswa yang mendapatkan tugas lumayan banyak, merasa perlu healing. Setelah memiliki problem dengan pasangan, kita perlu healing. Awalnya mungkin kita berpikir ini ialah hal yang lazim, hanya kosakatanya saja yang terdengar keren, mungkin karena memakai bahasa Inggris kali ya, hehehe.

Tetapi, saat self healing ini akhirnya muncul sebagai sesuatu yang melekat dengan anak muda terutamanya generasi Z dan terkonotasi sebagai generasi yang ‘lemah’. Maka otomatis ini akan menjadi akumulasi habits yang akan membentuk karakter kita bersama.

Baca Juga : Inilah Pengertian dari CEFR dalam Bahasa Inggris

Healing itu Apa?

Karena self-healing ini berasal dari bahasa Inggris, bila diartikan secara harfiah, self artinya diri sendiri, sementara healing artinya penyembuhan. Dengan kata lain, self-healing artinya adalah proses penyembuhan diri.

Ketika kita melakukan penyembuhan, berarti kita sedang sakit. Entah itu sakit secara jasmani ataupun secara psikis. Nah, yang menjadi masalah adalah saat kita sebetulnya hanya melakukan rutinitas yang bisa dibilang umum sehari-hari, lalu kita merasa cape dan merasa perlu healing.

Oleh sebab itu, critical questionnya justru adalah bagian mental mana yang sedang terganggu ataupun sakit. Atau jangan-jangan memang mental kita yang terlalu lemah menghadapi tantangan. Nah, ada sebagian penjelasan self-healing dari sebagian ahli.

Definisi yang pertama dari Tchiki Davis, MA, PhD dari Berkeley Well-Being Institute, beliau mendefinisikan self-healing merupakan proses penyembuhan diri seseorang dari situasi emosional dan mental yang buruk seperti trauma, stress, kecemasan, dan depresi.

Definisi yang kedua ialah dari Diana Raab, PhD, seorang spesialis self-development dari Sofia University, menurutnya self-healing adalah upaya buat menerima diri sendiri baik secara jasmani, mental, maupun spiritual, yang dibarengi sama kesanggupan untuk memperlakukan diri sendiri dengan baik.

Nah, dari kedua definisi tadi setidaknya terdapat dua tujuan yang bisa kita ambil. Pertama yakni memulihkan penyakit dan yang kedua yaitu mengembalikan energi kita terlebih dalam hal mental dan emosi. Dengan kata lain, ketika mental, mindset, dan emosi itu justru menjadi in-control responsibility, itu menjadi tanggung jawab kita buat bisa menghandlenya. Oleh sebab itu, kecepatan kita buat bisa healing dari penyakit psikologis apapun sebetulnya ialah indikator kematangan & kedewasaan kita.

Nah, karena yang paling bertanggung jawab atas mindset, emosi, dan respon kita yaitu diri kita sendiri, Maka dari itu, healing ini adalah hanya tentang cara kita mengembalikan tenaga dan emosi kita back to the track sehingga dapat kembali maksimal dalam menjalankan aktivitas.

Mungkin kita merasa bahwa kata self-healing ini baru muncul akhir akhir ini ya! Terutama pada generasi Z. Padahal sesungguhnya kalau diamati dari pengertiannya, kegiatan self-healing ini sudah ada pada generasi sebelumnya termasuk di era orang tua kita. Mulai dari naik gunung, tracking di alam bebas, ataupun mungkin liburan naik kelas. Lalu, mengapa baru ramai akhir akhir ini? Mungkin intensitasnya jadi meningkat berkali-kali lipat di zaman kita. Dan ini juga masuk akal sekali ketika mengamati fakta dan data yang menunjukkan bahwa informasi bisa tersebar begitu cepat sehingga siapa saja bisa memberikan apa saja cuma dengan scrolling gadget.

Tanpa kematangan emosional dan nalar yang tepat, kita dengan mudahnya membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Belum lagi, akumulasi benefit dari industry 1.0 sampai 4.0 semuanya ada di zaman kini. Dan semua digital infrastruktur ini malah bikin kita dapat sangat mungkin buat menjadi generasi yang multi-tasking, overthinking, unfocus, busy not productive, dan semua ini akan menjadi snowball effect pada kuantitas self-healing yang dibutuhkan.

Karena masalah mental yang dihadapi sama generasi sebelumnya baru hadir di usia 25-30 tahun ketika tanggung jawab mulai banyak dan keputusan besar mulai dibuat. Tetapi kini itu semua dapat hadir lebih cepat seiring dengan kecepatan yang malah menjadi indikator dari industri 5.0 zaman dimana gen Z berproses.

Kenapa Healing Makin Ramai Dibicarakan?

Alasan pertama mengapa self-healing menjadi sangat ramai dibicarakan ialah berkembangnya teknologi. Perkembangan teknologi yang kian cepat membuat informasi beredar begitu cepat, tentu ada positif dan negatifnya. Positifnya ialah banyak aktivitas yang dapat dilakukan lebih efektif dan efisien, tetapi negatifnya adalah informasi beredar begitu cepat, kita sangat mudah membandingkan diri dengan orang lain. Dan tanpa mempunyai goal, target, visi, dan arah yang jelas, kita akan susah menyeleksi mana informasi yang penting untuk masa depan kita dan mana yang sebetulnya tidak penting. Dan waktu kita lebih sering terpapar dengan update-an teman-teman kita. Maka, kita jadi mudah comparing alias membandingi. Nah, dari sinilah awal mulanya penyakit kesehatan mental.

Baca Juga : Beberapa Tips Ampuh Bekerja Di Perusahaan Multinasional 

Alasan yang kedua yakni kecepatan dan salah kaprah mengenai produktivitas bahwa ‘life is must go on’. Bagaimanapun permasalahan dan tantangan saat ini sedang kita hadapi di fase kehidupan manapun kini kita berada, waktu tak akan menunggu kita buat siap. Daripada memilih untuk menyelesaikan persoalan benar-benar dari hulu, kita lebih memilih mengatasi problem dari hilir karena mengejar cepat berakhirnya. Hasilnya, self-healing ini menjadi sangat sering kita dengar di sosial media.

Sebenarnya kita tidak sedang sakit namun hanya perlu istirahat sejenak dari padatnya aktivitas dari senin hingga jum’at, maka itu adalah hal yang oke, sebab itu merupakan bagian dari produktivitas. Tetapi yang justru salah kaprah yakni saat rutinitas sehari-hari kita anggap sebagai sesuatu yang menyakitkan, Maka, proses pembentukan karakter itu tidak akan sempurna terjadi karena kita tidak merasakan prosesnya dan kurang merasakan sakitnya perjuangan dalam mencapai apa yang menjadi cita-cita, goal, dan sasaran kita sendiri.

Inilah yang kerap disebut Strawberry Generation sama Rhenald Kasali, kelihatan indah dan menarik dari luar tetapi lembek dan gampang benyek di dalam. Tinggi antusiasnya namun tidak tahan banting mental dan karakternya.

Cara Self-Healing Terkendali & Impactful

Berikut ialah tiga cara yang dapat menjadi jalan tengah buat kita semua khususnya generasi Y dan generasi Z yang memang memerlukan healing atau lebih tepatnya rehat sejenak dari rutinitas tetapi tetap terkendali & impactful

1. Ubah Mindset

Trik yang pertama adalah merubah mindset kita bahwa berteman dengan rasa sakit, lelah, tanggung jawab bertambah, makin sedikit waktu untuk rebahan adalah pertanda bahwa kita bertumbuh. Syukuri dan nikmati rasa sakit itu, kalau memang kita mesti delay gratitude ataupun puasa kesenangan, maka ambil resikonya. Karena kita malah menghabiskan jatah sakit dan gagal lebih cepat dari kebanyakan orang pada umumnya.

Motivasi itu luntur justru karena tak banyak dipakai bukan karena dipakai. Dan menariknya, karakter dan sikap mental yang kuat itu terbentuk justru karena semua rasa sakit, rasa gagal, kecewa, marah, lelah yang dirasakan.

Mindsetnya ialah bukan lagi healing karena kita sedang sakit lagi depresi, melainkan rehat sejenak, sebab itu merupakan hak tubuh kita.

Baca Juga : Tips Mengajari Anak Alfabet Bahasa Inggris, Bagaimana Caranya? 

2. Acknowledge the Emotions

Saat emosi, baik itu emosi sedih, marah, kecewa, kesal, dan Lelah mulai hadir. Maka akui keberadaan emosi itu dengan netral.

Selama ini pandangan kita jika sedih, marah, kecewa, dan kesal ialah energi yang negatif dan sebaliknya. Padahal, semua emosi itu netral, akui keberadaannya bahwa saat ini nilai kita dibawah standar. Contohnya mengakui emosi itu ada dan hadir, rasakan emosinya dan biarkan dia mengalir.

Justru yang menjadi masalah yaitu waktu ada emosi duka atau kemarahan, namun kita mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Maka ini yang disebut sebagai Toxic Positivity. Masalah mental lainnya yang timbul dari perkembangan zaman dan teknologi itu sendiri.

Bagaimana cara kita mengalirkan energi itu, kalian sendiri yang jauh lebih mengerti dan paham. Bagi kita yang ekstrovert, berjumpa dengan teman bisa jadi adalah salah satu cara kita mengalirkan tenaga tersebut. untuk kita ya introvert, melakukan hal-hal yang kita senangi tanpa harus terpapar dengan banyak orang ialah salah satu cara mengalirkan energi.

3. Fokus Pada Solusi

Nah, kalau sebelumnya kita banyak menggunakan emosi, kini kita lebih menggunakan logika alias berpikir logis. Cara berpikir logis bisa memakai rumus apabila A maka jawabannya B.

Kalau kita tidak berusaha, maka kita tak akan mendapatkan. Kalau usaha kita biasa-biasa saja, maka wajar jika hasilnya pun juga rata-rata. Kalau kita tidak mau merasakan rasa sakitnya belajar, wajar jika kedepannya kita merasakan pedihnya kebodohan. Sehingga kita fokus melihat “kira kira apa yang sepatutnya kita lakukan?” bukan apa yang mau kita lakukan.

Karena playing victim dan making excuse ataupun merasa diri adalah korban dan terus melakukan pembelaan diri, itu tidak akan membawa kita beranjak dan otomatis kita tak akan bertumbuh.

Maka dari itu, kita seharusnya mencoba sesuatu yang masih dalam kendali kita, maka seperti itulah karakter kita akan terbentuk kedepannya.

Nah, itu dia beberapa trik perihal self-healing dari kami, semoga berguna untuk teman-teman yang saat ini lagi membutuhkan healing. Yuk sebarkan artikel ini kepada teman-teman kita yang sedang memiliki problem yang sama.