
Banyak dari temen-temen Goldeners yang udah capek-capek ngumpulin berkas, belajar TOEFL, sampai revisi CV berkali-kali, tapi akhirnya harus berhenti di tahap kedua seleksi beasiswa LPDP.
Dan setelah mimin ngobrol sama beberapa alumni dan reviewer LPDP, salah satu penyebab utamanya ternyata datang dari essay yang dikumpulin.
Yup, bukan dari nilai TOEFL kamu yang pas-pasan atau IPK yang nggak cumlaude. Tapi dari cara kamu nulis essay yang… yah, belum kena.
Kalau kamu sekarang lagi nyiapin aplikasi LPDP, mending perhatikan dulu 7 kesalahan essay LPDP yang sering banget kejadian. Biar kamu nggak jatuh di lubang yang sama kayak banyak pendaftar lainnya.
1. Terlalu Umum dan Klise
Banyak yang nulis essay dengan kalimat-kalimat seperti “saya ingin berkontribusi untuk bangsa” atau “saya ingin membanggakan orang tua”. Walaupun niatnya bagus, tapi terlalu banyak yang nulis seperti itu. Essay kamu jadi terasa generik.
Masalahnya bukan cuma di kata-kata yang terdengar pasaran, tapi juga kurangnya detail yang bikin cerita kamu beda dari yang lain.
Reviewer nggak bisa merasa terhubung dengan tulisanmu kalau kamu nggak kasih mereka alasan spesifik kenapa kamu layak. Coba tulis pengalaman personal yang jarang dialami orang lain, atau masalah nyata yang pernah kamu hadapi dan belajar banyak dari situ.
Misalnya kamu pernah jadi relawan di daerah terpencil dan di situ kamu nemuin tantangan pendidikan yang belum pernah kamu sadari sebelumnya. Itu cerita yang kuat dan bisa jadi pintu masuk untuk membahas tujuan studi kamu.
2. Gagal Menjawab Pertanyaan Essay
LPDP punya struktur pertanyaan yang jelas: siapa kamu, apa tujuanmu, dan bagaimana kamu mau mewujudkannya. Tapi masih banyak yang nulis essay kayak cerita bebas tanpa arah. Padahal, kalau kamu loncat-loncat poinnya, reviewer jadi bingung.
Yang sering terjadi, essay cuma fokus ke satu bagian aja, misalnya latar belakang, tapi nggak sampai pada rencana kontribusi setelah lulus. Atau sebaliknya, terlalu fokus pada masa depan tapi nggak menjelaskan kenapa kamu qualified. Setiap bagian seharusnya nyambung dan membentuk alur logis.
Jadi pastikan kamu menjawab semua poin dengan struktur yang rapi. Bisa dimulai dengan cerita personal, lanjut ke motivasi kuliah di bidang tersebut, dan ditutup dengan rencana kontribusi yang bisa diukur.
3. Terlalu Banyak Prestasi, Tapi Kurang Relevansi
Beberapa essay isinya seperti portofolio: lomba A, penghargaan B, konferensi C. Tapi tidak dijelaskan kenapa hal-hal itu penting buat bidang studi yang dipilih. Akhirnya terkesan cuma pamer, bukan menunjukkan kesiapan akademik.
Prestasi itu penting, tapi harus ditempatkan secara strategis. Misalnya kamu daftar program S2 Teknik Lingkungan, maka prestasi yang paling nyambung adalah pengalaman proyek konservasi, bukan medali lomba basket. Semakin relevan, semakin kuat.
Mimin pernah baca essay yang isinya sederhana, tapi semua pengalaman ditulis dengan hubungan yang kuat ke tujuan akademiknya. Itu jauh lebih meyakinkan daripada yang panjang tapi campur aduk.
4. Bahasa yang Kaku atau Justru Terlalu Santai
Essay LPDP bukan tugas kuliah, tapi juga bukan status Facebook. Banyak yang salah kaprah dalam memilih gaya bahasa. Akibatnya, tulisan terasa terlalu berat atau justru nggak serius.
Kalau kamu nulis seperti jurnal akademik, penuh istilah teknis dan kalimat pasif itu bisa bikin essay kamu membosankan. Tapi kalau kamu terlalu santai, kayak ngobrol sama temen, bisa dianggap nggak menghargai proses seleksi.
Solusinya? Gunakan bahasa formal tapi personal. Bayangin kamu lagi ngobrol sama seseorang yang penting tapi tetap pengen tahu kamu apa adanya. Jangan takut buat menunjukkan kepribadian lewat gaya bahasa, asal tetap sopan dan tertata.
5. Tidak Konsisten Antara Essay Satu dan Lainnya
Kamu diminta nulis dua jenis essay: satu tentang kontribusi, satu lagi tentang pencapaian terbesar. Tapi banyak yang nulis dua essay kayak lagi daftar ke dua beasiswa yang berbeda. Pesannya nggak nyambung.
Misalnya di satu essay kamu bilang tertarik pada pendidikan inklusif, tapi di essay lainnya kamu bahas pengalaman sukses bikin bisnis kuliner. Reviewer jadi bingung: kamu mau fokus di bidang apa sebenarnya?
Cobalah buat narasi besar yang menghubungkan keduanya. Misalnya kamu bisa bilang bahwa pengalaman suksesmu mengelola tim di bisnis kuliner jadi bekal penting dalam menjalankan program pendidikan di komunitas. Semua bisa dikaitkan kalau kamu tahu benang merahnya.
6. Tidak Ada Bukti dan Data Pendukung
Kalau kamu bilang ingin memberdayakan perempuan desa, kasih tahu berapa persen perempuan di daerahmu yang masih tertinggal. Atau ceritakan satu pengalaman nyata saat kamu mendampingi pelatihan UMKM untuk ibu-ibu rumah tangga.
Tanpa bukti, essay kamu jadi lemah. Reviewer butuh data atau pengalaman konkret supaya bisa percaya bahwa kamu paham isu yang kamu angkat.
Kamu nggak perlu pakai jurnal ilmiah kalau nggak bisa. Cukup kutip data BPS, survei lokal, atau pengalaman pribadi yang punya dampak. Itu sudah sangat membantu.
7. Kurang Proofreading dan Review dari Orang Lain
Kalau essay kamu banyak typo, struktur kalimatnya berantakan, atau terlalu panjang tanpa jeda yang jelas, kemungkinan besar reviewer akan kesulitan memahami isi tulisanmu.
Masalahnya, banyak yang nulis essay langsung dikirim tanpa sempat direview. Padahal, dengan dibaca ulang aja bisa ketemu kesalahan-kesalahan mendasar.
Coba minta feedback dari orang yang udah pernah lolos LPDP, dosen, atau teman yang jago nulis. Koreksi dari orang lain kadang bisa nunjukin blind spot yang kamu nggak sadar.
Contohnya Gimana Sih Esai yang Oke?
Nah, supaya makin kebayang, esai yang oke tuh biasanya punya struktur yang rapi dan alurnya enak dibaca. Dimulai dari pengenalan diri dan latar belakang, lanjut ke motivasi studi, dan ditutup dengan rencana kontribusi pasca studi. Jadi kayak cerita hidup yang dirangkum, tapi tetap fokus ke tujuan beasiswa.
Yang paling penting, essay tersebut terasa personal. Kamu bisa cerita tentang pengalaman yang bener-bener kamu alami, bukan sekadar ngasih data atau teori. Reviewer tuh pengen tahu kamu sebagai individu, bukan cuma daftar pencapaian kamu.
Dan jangan lupa juga, esai yang baik itu relevan sama bidang studi yang kamu pilih. Kalau kamu ngambil S2 Pendidikan, tapi seluruh isi essay kamu soal ekonomi makro, ya jadinya ngambang. Fokus dan konsisten itu kunci.
Goldeners, buat kamu yang masih bingung gimana sih contoh esai LPDP yang bagus, mimin sangat merekomendasikan kamu buat baca artikel Golden Course yang ini: Contoh Essay LPDP.
Di sana ada banyak insight dan contoh yang bisa jadi inspirasi kamu buat nyusun esai yang kuat dan menonjol.
Baca Juga: 7 Contoh Essay LPDP 2025 dan Tips Membuatnya
Nah Goldeners, itu tadi 7 kesalahan essay LPDP yang bisa bikin kamu gagal di tahap kedua. Sekarang udah tahu kan, apa aja yang perlu dihindari dan diperbaiki sejak awal proses persiapan?
Kalau kamu juga lagi persiapan buat tes TOEFL sebagai salah satu syarat LPDP, jangan lupa Golden English punya program Kursus Persiapan Tes TOEFL. Supaya kamu makin siap, nggak cuma dari sisi tulisan tapi juga dari hasil skor TOEFL kamu. Semangat terus yaa buat ngejar beasiswa impian!
